Kamis, 30 Januari 2014

Tukang Becak Multitalent



 Blassius Haryadi atau yang akrab disapa dengan Harry Van Yogya adalah salah satu tukang becak wisata yang kerap mangkal di sekitar  hotel Airlangga. Hotel ini terletak di jalan Prawirotaman Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pria yang pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah selama 4 semester di Sanata Darma Yogyakarta ini, tak pernah berfikir bahwa ia akan menjadi tukang becak. “Sebenarnya narik becak itu bukan profesi yang memang saya inginkan, tapi waktu itu karena situasional saja,” ucap Harry. Selain tidak perlu mengandalkan keterampilan dan juga  tidak mengganggu aktifitas kuliahnya, ia memutuskan menjadi tukang becak. ”Karena waktu itu saya masih kuliah, jadi tas dan buku selalu saya bawa, sambil narik, sambil belajar. Ternyata menjadi tukang becak sudah membuat saya nyaman waktu itu, dan nggak kepikiran lagi untuk cari kerja yang lain.” ungkap Harry.
Tidak disangka pula, pria yang berprofesi sebagai tukang becak ini, ternyata pernah menjadi narasumber dalam workshop bertajuk Internet Sehat dan Akademi berbagi yang diselenggarakan di Goethe Haus- Goethe Insitute, jl. Sam Ratulangi Jakarta. Dalam acara itu ia tidak sendiri,  Dr Onno Purbo, pakar Informasi Teknologi (IT) dan Dr Yanuar Nugroho, Ph.D, dosen dan dokter di Manchester University, Inggris, juga turut serta menjadi narasumber bersamanya. Tidak hanya itu, Harry juga sering diundang untuk menjadi pembicara pada kuliah umum di beberapa universitas di provinsi Yogyakarta dan sekitarnya.
Selain profesinya sebagai tukang becak, Harry juga berprofesi sebagai pemandu wisata. Ia juga menjadi tukang becak pertama yang mempromosikan becak wisata melalui situs jejaring sosial yang dimilikinya, seperti  Facebook dan Twitter.
Caranya yang berbeda dengan kebanyakan tukang becak lainnya, hal ini justru membawa keuntungan besar bagi Harry. Banyak calon penumpangnya yang memesan becak melalui dua situs online tersebut, bahkan wisatawan mancanegara juga dapat menggunakan layanan online tersebut. “Awalnya saya mengenal internet pertama kali dari seorang tamu atau penumpang becak asal Amerika, sekitar tahun 1999/2000 an. Karena pada waktu itu, ia meminta saya untuk mengantarkannya lagi ketika ia kembali berkunjung ke Indonesia ” tutur ayah tiga orang anak ini.
Tetapi Harry tidak punya handphone karena saat itu harga handphone tidak cukup di kantong pria yang kini berumur 46 tahun itu, sehingga ia kesulitan dalam berkomunikasi dengan para penumpang yang ingin memesan becak wisatanya. “Akhirnya, penumpang Amerika itu mengajarkan saya membuat dan cara menggunakan e-mail,” ungkapnya.
Berawal dari e-mail itu ia mulai tertarik dengan dunia Internet, dan hingga kini ia memiliki lebih dari satu situs jejaring sosial di Internet. Namun, saat pertama kali ia menawarkan jasa becaknya melalui jejaring sosial, banyak cibiran yang membuatnya kecewa. “Sangat kecewa, ketika saya berkata jujur di media sosial bahwa saya adalah tukang becak, tak ada satupun orang bisa percaya” ucapnya.
Harry juga pernah menulis babarapa artikel yang berhasil di muat di media cetak. Bakat nya menulis telah ia miliki sejak SD. ” Dulu, waktu saya duduk di bangku SD dan SMP saya sering nulis, walaupun tidak pernah menjadi sebuah tulisan” kenangnya.
Penulis buku The Becak Way ini juga menuturkan bahwa semua yang ia alami  adalah karena sebuah keadaan, ia menjadi tukang becak adalah karena keadaan, dan keadaan pasca gempa Bantul pula yang menjadikannya sebagai seorang single parent dengan 3 orang anak. “Kehidupan yang nyata sangat keras tantangannya, apabila tidak mensyukuri maka akan terus merasa kurang dan kurang” ungkap salah satu pemeran film Linimas(s)a ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar