Blassius Haryadi atau yang akrab disapa dengan
Harry Van Yogya adalah salah satu tukang becak wisata yang kerap mangkal di
sekitar hotel Airlangga. Hotel ini
terletak di jalan Prawirotaman Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pria yang pernah mengenyam pendidikan
di bangku kuliah selama 4 semester di Sanata Darma Yogyakarta ini, tak pernah
berfikir bahwa ia akan menjadi tukang becak. “Sebenarnya narik becak itu bukan
profesi yang memang saya inginkan, tapi waktu itu karena situasional saja,”
ucap Harry. Selain tidak perlu mengandalkan keterampilan dan juga tidak mengganggu aktifitas kuliahnya, ia
memutuskan menjadi tukang becak. ”Karena waktu itu saya masih kuliah, jadi tas
dan buku selalu saya bawa, sambil narik, sambil belajar. Ternyata menjadi
tukang becak sudah membuat saya nyaman waktu itu, dan nggak kepikiran lagi
untuk cari kerja yang lain.” ungkap Harry.
Tidak disangka pula, pria yang berprofesi sebagai tukang
becak ini, ternyata pernah menjadi narasumber dalam workshop bertajuk Internet
Sehat dan Akademi berbagi yang diselenggarakan di Goethe Haus- Goethe Insitute,
jl. Sam Ratulangi Jakarta. Dalam acara itu ia tidak
sendiri, Dr Onno Purbo, pakar Informasi Teknologi (IT) dan Dr Yanuar Nugroho,
Ph.D, dosen dan dokter di Manchester University,
Inggris, juga turut serta menjadi narasumber
bersamanya. Tidak hanya itu, Harry juga sering diundang untuk menjadi pembicara
pada kuliah umum di beberapa universitas di provinsi Yogyakarta dan sekitarnya.
Selain profesinya sebagai tukang
becak, Harry juga berprofesi sebagai pemandu wisata. Ia juga menjadi tukang
becak pertama yang mempromosikan becak wisata melalui situs jejaring sosial
yang dimilikinya, seperti Facebook dan
Twitter.
Caranya yang berbeda dengan
kebanyakan tukang becak lainnya, hal ini justru membawa keuntungan besar bagi
Harry. Banyak calon penumpangnya yang memesan becak melalui dua situs online
tersebut, bahkan wisatawan mancanegara juga dapat menggunakan layanan online
tersebut. “Awalnya saya mengenal internet pertama kali dari seorang tamu atau
penumpang becak asal Amerika, sekitar tahun 1999/2000 an. Karena pada waktu itu,
ia meminta saya untuk mengantarkannya lagi ketika ia kembali berkunjung ke
Indonesia ” tutur ayah tiga orang anak ini.
Tetapi Harry tidak punya handphone karena
saat itu harga handphone tidak cukup di kantong pria yang kini berumur 46 tahun
itu, sehingga ia kesulitan dalam berkomunikasi dengan para penumpang yang ingin
memesan becak wisatanya. “Akhirnya, penumpang Amerika itu mengajarkan saya
membuat dan cara menggunakan e-mail,” ungkapnya.
Berawal dari e-mail itu ia mulai
tertarik dengan dunia Internet, dan hingga kini ia memiliki lebih dari satu
situs jejaring sosial di Internet. Namun, saat pertama kali ia menawarkan jasa
becaknya melalui jejaring sosial, banyak cibiran yang membuatnya kecewa. “Sangat
kecewa, ketika saya berkata jujur di media sosial bahwa saya adalah tukang
becak, tak ada satupun orang bisa percaya” ucapnya.
Harry juga pernah menulis babarapa
artikel yang berhasil di muat di media cetak. Bakat nya menulis telah ia miliki
sejak SD. ” Dulu, waktu saya duduk di bangku SD dan SMP saya sering nulis,
walaupun tidak pernah menjadi sebuah tulisan” kenangnya.
Penulis buku The Becak Way ini juga
menuturkan bahwa semua yang ia alami adalah
karena sebuah keadaan, ia menjadi tukang becak adalah karena keadaan, dan
keadaan pasca gempa Bantul pula yang menjadikannya sebagai seorang single
parent dengan 3 orang anak. “Kehidupan yang nyata sangat keras tantangannya,
apabila tidak mensyukuri maka akan terus merasa kurang dan kurang” ungkap salah
satu pemeran film Linimas(s)a ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar