“Di Coba duluu..” terdengar suara lembut di seberang sana
ketika aku kabarkan bahwa akan ada ujian Tahfidz untuk mahasiswa PKMI. Awalnya
aku dan teman-teman kaget mendengar kabar itu.. Karena di awal perjanjian SK
Rektor tidak tertulis masalah ini dan tidak pernah di singgung-singgung tentang
hal ini oleh 2 Dosen KKI yang mengurusi perihal Beasiswa.
“Bagaimana nanty jika aku tidak berhasil test?” tanyaku ragu
kepada kedua orang tuaku.
“Di coba duluu kak..” dengan jawaban yang sama beliau mengulang kalimat itu lagi.
Beliau melanjutkan kalimatnya “Gak usah mikirin akhirnya.. yang penting itu, Prosesnya.. usahanya.. Akhir itu bisa di manipulasi. Tapi Proses yang menjdikan bagaimana kita sebenarnya.. Ikhtiyar dulu, baru Tawakkall. kalaupun toh akhirnya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan,. yaa sudahhh.. kita jalani apa adanya saja.. ga usah mikir yang macem-macem dulu.. Coba duluu yaah”
“Di coba duluu kak..” dengan jawaban yang sama beliau mengulang kalimat itu lagi.
Beliau melanjutkan kalimatnya “Gak usah mikirin akhirnya.. yang penting itu, Prosesnya.. usahanya.. Akhir itu bisa di manipulasi. Tapi Proses yang menjdikan bagaimana kita sebenarnya.. Ikhtiyar dulu, baru Tawakkall. kalaupun toh akhirnya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan,. yaa sudahhh.. kita jalani apa adanya saja.. ga usah mikir yang macem-macem dulu.. Coba duluu yaah”
Begitulah kira-kira ucapan kedua sosok hebat yang
melahirkan, menjaga bahkan lebih dari itu selama hidupku. Ummi dan Abi..
Mereka tidak pernah mendidik dengan cara instant. PROSES,
IKHTIYAR kemudian TAWAKKAL. Itulah yang tertanam pada diriku sampai saat ini.
Aku tak pernah mempermasalahkan Akhir.. yang aku lakukan adalah Proses. Aku
sangat takut jika proses yang kujalani tidaklah baik.
“Maafkan aku.. belum bisa menjadi yang diinginkan dan selalu
saja membuatmu susah.. Ternyata Allah sudah menyiapkan hal lain. Aku belum mengizinkan
di semester ini mi, bi.. Kelulusan tidak berpihak padaku pada semsester ini.”
Selang 3 menit.. SMS itupun terkirim kepada ummi dan abi..
Sangatt takutt.. itu yang ku rasakan. Berbagai macam pikiran dan entah apa yang
merasuki Fikiranku. Saat itu aku ingiinnnnn sekali berteriak “Aaarrrrgggghhhhh….”
Tak tega aku melihat wajah mereka. Tak berani aku membayangkan kekecewaan
mereka yang pasti akan terlihat dari
raut wajahnya. yang seHarusnya aku mengirimkan sms yang membuat mereka bangga..
Tak terasa butiran lembut telah membasahi pipiku. wajarkah aku jika aku menangiss??
5 Menit berlalu.. aku tetap memegang hp dalam genggamanku.
Berharap menunggu balasan dari ummi dan abi. Seketika nada Doraemon berbunyi
menandakan ada sms masuk di hp ku. kulihat di awal layar, ternyata ummi ku.
Enggan rasany untuk membukanya. dengan agak sedikit berat, ku ayunkan jemariku
untuk memencet tombol “Tampilkan”. dan isinya
“Ya udah gapapa kak, yang penting udah ada usaha, dan terus di tingkatkan hafalannya..”
Belum sempat aku menutup sms itu, tiba-tiba suara doraemon mengagetkanku kembali. “Waduhh.. sms dari abi..” pikirku. dan aku membukanya lagi tanpa piker panjang..
“ga lulus? gapapa Alhamdulillah.. harus lebih banyak belajar dan tingkatkan tahfidznya..”
“Ya udah gapapa kak, yang penting udah ada usaha, dan terus di tingkatkan hafalannya..”
Belum sempat aku menutup sms itu, tiba-tiba suara doraemon mengagetkanku kembali. “Waduhh.. sms dari abi..” pikirku. dan aku membukanya lagi tanpa piker panjang..
“ga lulus? gapapa Alhamdulillah.. harus lebih banyak belajar dan tingkatkan tahfidznya..”
Begitu deras aliran yang jatuh tepat di pipiku ini.. Tak
sepantasnya aku mengecewakannya. tidak. aku bahkan sempat berfikir bahwa Allah
tidak adil.. BUT.. Aku tak bisa menyalahkan siapapun selain diriku sendiri..
yaa.. diriku sendiri. Sesuatu ada waktunya, segala sesuatu ada hikmahnya.. Kita
sering tidak paham rahasia takdir Allah. aku selalu percaya bahwa Allah SELALU
memberi pelangi di setiap badai, senyum disetiap air mata, berkah di setiap cobaan
dan jawaban di setiap do’a.
Yaahh.. Aku sangat bersyukur padaMu ya Allah.. KAU telah menanugrahi
kedua orangtua yang Luar biasa untuk kehidupanku. Entah itu masa lalu, sekarang
dan akan datang nanty nya. Tak bisa aku membalas SEMUA jasanya. Meskipun aku
bayar dengan uang sekalipun. Ketika ku Tanya pada ummi dan abi apa yang harus
aku bantu? mereka selalu menjawan “Cukup Bantu Ummi dan Abi dengan menjadi anak
Sholehah..”
Ada sesuatu yang tidak bisa aku tuliskan melalui kata-kata
disini. Biarkan hal ini aku dan beberapa temanku yang tahu. Pena tak selamanya
menjadi saksi atas kehidupanku.. karena.. terkadang.. kita juga butuh ruang di
kepala kita untuk tetap menyimpan sesuatu yang berharga..
Allah.. Kau tahu apa yang terbaik untukku..
Aku tak pernah menerima apa yang kuminta.. TAPI.. Aku menerima apa yang Kubutuhkan.
Aku tak pernah menerima apa yang kuminta.. TAPI.. Aku menerima apa yang Kubutuhkan.
-Aku yang tengah belajar selalu bersyukur atas setiap karuniaMu Robby-
Jogjakarta, Selasa, 2 Oktober 2013
21:49 Waktu setempat.
aku selalu bangga memiliki sahabat seperti kamu :)
BalasHapuspastikan untuk tetap berusaha melakukan yang terbaik dimanapun kita berada