Jumat, 31 Januari 2014

Muslimah di Pentas Politik



“Politik itu kotor, politik itu dzolim dan politik itu tidak baik”
Kalimat-kalimat itulah yang  terekam jelas pada opini public saat ini. Sebagian masyarakat Indonesia berasumsi bahwa politik yang terjadi hari ini adalah adanya  kepentingan suatu kelompok atau individu, sehingga mencoreng maksud atau arti dari kata politik itu sendiri. Mereka menganggap bahwa politik itu identik dengan kekejaman dan kelicikan. Namun, mereka tidak pernah menelusuri apa dan bagaimana dimensi serta hakekat politik itu sebenarnya bagi kemajuan sebuah negara.

Dunia politik dewasa ini penuh dengan warna warni, bahkan di cap sebagai dunia keras. Adanya istilah perebutan kekuasaan di kalangan kaum pria, bisa jadi karena banyaknya kaum wanita yang justru menghindar dari dunia perpolitikan ini. Padahal, dalam bidang ini tidak hanya di peruntukkan bagi kaum adam saja, karena muslimah juga memiliki kepentingan-kepentingan yang belum tentu dapat diwakili oleh kaum pria.

Jika dilihat dari arti dan makna kata, memang perempuan dan politik adalah dua kata yang saling bertolak belakang definisinya. Akan tetapi, apabila mengacu pada sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi : “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa-apa yang di pimpinnya.”(Al-Hadits). Dari hadits Nabi tersebut dapat dilihat bahwa, peran muslimah sangat diperlukan dalam masyarakat, karena mereka bagian dari masyarakat tersebut. Sehingga para muslimah memiliki keharusan untuk peduli dan terlibat dalam masalah politik.

Walaupun masalah terjunnya seorang muslimah dalam politik adalah kontroversi, tetapi kita bisa melihat peran politik muslimah dalam kacamata Islam pada  zaman Rasulullah SAW. Kehadiran dan partisipasi perempuan saat itu telah di praktekkan oleh beberapa para Shahabiyah.

Dalam sejarah Nabi, kita mengenal sosok Aisyah binti Abu Bakar, istri Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok wanita luar biasa yang tidak hanya di hadapan baginda Nabi saja, tetapi bagi seluruh kaum muslimin ia adalalah sosok wanita  hebat. Itu terlihat dari sejarah yang mengakui bahwa Ummul Mukminin yang satu ini adalah seorang Al-mufatsiriin. Aisyah ra, adalah seorang perempuan yang banyak meriwayatkan hadits, cerdas, mengerti politik, dan ahli strategi perang pada masa itu.

Tidak hanya Aisyah, masih banyak kisah keterlibatan muslimah dalam kancah politik saat itu. Bahkan sejarah mencatat Asma’ binti Abu bakar sebagai wanita yang berkontribusi besar di ranah publik, termasuk di wilayah politik. Atas pengorbanannya, yaitu dalam keadaan hamil tua ia  mengantarkan makanan untuk Rasulullah dan ayahnya Abu Bakar as-shiddiq saat mereka bersembunyi di dalam gua Tsur ketika perjalanan Hijrahnya.

Politik, bagi muslimah adalah sebuah hal yang penting, terutama dalam bidang dakwah. Muslimah merupakan salah satu sayap diantara “dua sayap” pesawat terbang dakwah, dimana satu sayap laginya adalah laki-laki.
“…… Islam telah meninggikan derajat perempuan dan mengangkat nilai kemanusiaannya serta menetapkannya sebagai mitra dan partner bagi laki-laki dalam kehidupan” (Mahfudz Siddiq, 2006)

Karena sadar ataupun tidak, perempuan adalah bagian dari laki-laki, begitu pula sebaliknya. Ada cerita, ketika dalam sebuah acara, Buya Hamka dan istrinya yang diundang dalam acara itu, dengan mendadak, sang MC meminta istri Buya untuk naik panggung. Asumsinya, istri seorang penceramah hebat  pastilah pula sama hebatnya. Naiklah sang istri, namun ia hanya bicara pendek. "Saya bukanlah penceramah, saya hanyalah tukang masaknya sang Penceramah." Lantas beliau pun turun panggung.

Dalam konteks cerita tersebut, membenarkan adanya  ungkapan yang mengatakan bahwa “Di balik kesuksesan seorang pria ada sosok wanita di belakangnya” atau dalam ungkapan lain juga “Women!! without her, Man is Nothing”.

Sungguh, begitu berharganya seorang Muslimah dalam kehidupan ini. Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan politik pada sebuah institusi formal bernama negara. Seorang pujangga pernah berkata :
“Perempuan adalah tiang negara….
  Jika ia baik, baiklah negara….
  Jika ia rusak, rusaklah negara…”

Berangkat dari pemaknaan ungkapan diatas, peran muslimah dalam ranah publik (politik) harus tetap menjaga keseimbangan dengan tugas-tugas rumah tangga sebagai seorang anak yang merawat orangtuanya yang sudah tua, sebagai seorang istri yang mendampingi suaminya di setiap situasi, ibu sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Karena sesungguhnya Allah SWT men-taklif  kaum perempuan untuk menjadi pengelola rumah tangga dan pendidik generasi.
  
Tidak terlepas dari peran muslimah sebagai sentral dalam pengelolaan sumber daya dalam keluarga, ia juga harus bisa mengoptimalkan tugas lain di luar rumah. Karena, dalam beraktifitas publik (politik), bagi wanita (dan laki-laki) berlaku prinsip Fastabiqul Khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebagaimana jargon anak-anak Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang sering kita dengar.

Dengan demikian, muslimah memiliki peluang amal yang begitu luas di ranah politik, dan ikut berperan di dalamnya. Dengan catatan, dalam beraktifitas politik, seorang muslimah harus tetap memperhatikan rambu-rambu syar’i yang tidak menghapuskan perannya yang lain sebagai seorang muslimah. Semangat para muslimah Indonesia!!


Kamis, 30 Januari 2014

Tukang Becak Multitalent



 Blassius Haryadi atau yang akrab disapa dengan Harry Van Yogya adalah salah satu tukang becak wisata yang kerap mangkal di sekitar  hotel Airlangga. Hotel ini terletak di jalan Prawirotaman Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pria yang pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah selama 4 semester di Sanata Darma Yogyakarta ini, tak pernah berfikir bahwa ia akan menjadi tukang becak. “Sebenarnya narik becak itu bukan profesi yang memang saya inginkan, tapi waktu itu karena situasional saja,” ucap Harry. Selain tidak perlu mengandalkan keterampilan dan juga  tidak mengganggu aktifitas kuliahnya, ia memutuskan menjadi tukang becak. ”Karena waktu itu saya masih kuliah, jadi tas dan buku selalu saya bawa, sambil narik, sambil belajar. Ternyata menjadi tukang becak sudah membuat saya nyaman waktu itu, dan nggak kepikiran lagi untuk cari kerja yang lain.” ungkap Harry.
Tidak disangka pula, pria yang berprofesi sebagai tukang becak ini, ternyata pernah menjadi narasumber dalam workshop bertajuk Internet Sehat dan Akademi berbagi yang diselenggarakan di Goethe Haus- Goethe Insitute, jl. Sam Ratulangi Jakarta. Dalam acara itu ia tidak sendiri,  Dr Onno Purbo, pakar Informasi Teknologi (IT) dan Dr Yanuar Nugroho, Ph.D, dosen dan dokter di Manchester University, Inggris, juga turut serta menjadi narasumber bersamanya. Tidak hanya itu, Harry juga sering diundang untuk menjadi pembicara pada kuliah umum di beberapa universitas di provinsi Yogyakarta dan sekitarnya.
Selain profesinya sebagai tukang becak, Harry juga berprofesi sebagai pemandu wisata. Ia juga menjadi tukang becak pertama yang mempromosikan becak wisata melalui situs jejaring sosial yang dimilikinya, seperti  Facebook dan Twitter.
Caranya yang berbeda dengan kebanyakan tukang becak lainnya, hal ini justru membawa keuntungan besar bagi Harry. Banyak calon penumpangnya yang memesan becak melalui dua situs online tersebut, bahkan wisatawan mancanegara juga dapat menggunakan layanan online tersebut. “Awalnya saya mengenal internet pertama kali dari seorang tamu atau penumpang becak asal Amerika, sekitar tahun 1999/2000 an. Karena pada waktu itu, ia meminta saya untuk mengantarkannya lagi ketika ia kembali berkunjung ke Indonesia ” tutur ayah tiga orang anak ini.
Tetapi Harry tidak punya handphone karena saat itu harga handphone tidak cukup di kantong pria yang kini berumur 46 tahun itu, sehingga ia kesulitan dalam berkomunikasi dengan para penumpang yang ingin memesan becak wisatanya. “Akhirnya, penumpang Amerika itu mengajarkan saya membuat dan cara menggunakan e-mail,” ungkapnya.
Berawal dari e-mail itu ia mulai tertarik dengan dunia Internet, dan hingga kini ia memiliki lebih dari satu situs jejaring sosial di Internet. Namun, saat pertama kali ia menawarkan jasa becaknya melalui jejaring sosial, banyak cibiran yang membuatnya kecewa. “Sangat kecewa, ketika saya berkata jujur di media sosial bahwa saya adalah tukang becak, tak ada satupun orang bisa percaya” ucapnya.
Harry juga pernah menulis babarapa artikel yang berhasil di muat di media cetak. Bakat nya menulis telah ia miliki sejak SD. ” Dulu, waktu saya duduk di bangku SD dan SMP saya sering nulis, walaupun tidak pernah menjadi sebuah tulisan” kenangnya.
Penulis buku The Becak Way ini juga menuturkan bahwa semua yang ia alami  adalah karena sebuah keadaan, ia menjadi tukang becak adalah karena keadaan, dan keadaan pasca gempa Bantul pula yang menjadikannya sebagai seorang single parent dengan 3 orang anak. “Kehidupan yang nyata sangat keras tantangannya, apabila tidak mensyukuri maka akan terus merasa kurang dan kurang” ungkap salah satu pemeran film Linimas(s)a ini.

Selasa, 19 November 2013

Bacalah dengan Saksama, Renungkanlah kawan!!


-Renungan Sebelum Tidur-

Ketika aku ingin hidup kaya,aku lupa bahwa hidup ini adalah kekayaan.

Ketika aku takut memberi,aku lupa bahwa Semua yang aku miliki adalah sebuah pemberian..

Ketika aku ingin Jadi yang terkuat,aku lupa bahwa dalam kelemahan,ALLAH
memberi aku kekuatan.

Ketika aku takut sial,aku lupa bahwa hidupku adalah sebuah keberuntungan.

Hidup ini sangatlah indah jika kita mensyukuri apa yang sudah tersedia.

Adakalanya yang terindah bukanlah yang terbaik.

Yang sempurna tidak menjanjikan kebahagian.

Tetapi ketika kita mampu dan mau menerima semua KEKURANGAN & KELEBIHAN.

Maka,kebahagian hidup yang sesungguhnya sudah kita capai.

Jadilah pribadi yang apa adanya,syukuri apapun yang saat ini masih kau miliki.

Karena belum tentu mereka-mereka yang ada di pinggir jalanan mempunyai sebutir nasi untuk mengisi perutnya atau bahkan anak-anaknya.

Buanglah semua kepahitan hidup yang sampai detik ini masih menggelapkan pandanganmu,maka dunia yang penuh harapan telah kau lihat.

Dan bersiaplah merengkuhnya dalam Jalan-Nya yang Terang..

Jangan biasakan dirimu bahagia karena hal-hal yang serba 'Wow' tapi mulai sekarang,buatlah dirimu bahagia dari hal-hal sepele dan tentunya berguna bagi Kita Semua.

 Aku Ucapkan Selamat Beristirahat..Semoga esok ALLAH berkenan membukakan mata kita untuk kembali menikmati indahnya dunia..

Aamiin Ya Rabbal'alamin.

Rabu, 02 Oktober 2013

Bersahabat dengan Masalah dan Tertawa pada kegagalan..



“Di Coba duluu..” terdengar suara lembut di seberang sana ketika aku kabarkan bahwa akan ada ujian Tahfidz untuk mahasiswa PKMI. Awalnya aku dan teman-teman kaget mendengar kabar itu.. Karena di awal perjanjian SK Rektor tidak tertulis masalah ini dan tidak pernah di singgung-singgung tentang hal ini oleh 2 Dosen KKI yang mengurusi perihal Beasiswa.
“Bagaimana nanty jika aku tidak berhasil test?” tanyaku ragu kepada kedua orang tuaku.
“Di coba duluu kak..” dengan jawaban yang sama beliau mengulang kalimat itu lagi.
Beliau melanjutkan kalimatnya “Gak usah mikirin akhirnya.. yang penting itu, Prosesnya.. usahanya.. Akhir itu  bisa di manipulasi. Tapi Proses yang menjdikan bagaimana kita sebenarnya.. Ikhtiyar dulu, baru Tawakkall. kalaupun toh akhirnya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan,. yaa sudahhh.. kita jalani apa adanya saja.. ga usah mikir yang macem-macem dulu.. Coba duluu yaah”
Begitulah kira-kira ucapan kedua sosok hebat yang melahirkan, menjaga bahkan lebih dari itu selama hidupku. Ummi dan Abi..
Mereka tidak pernah mendidik dengan cara instant. PROSES, IKHTIYAR kemudian TAWAKKAL. Itulah yang tertanam pada diriku sampai saat ini. Aku tak pernah mempermasalahkan Akhir.. yang aku lakukan adalah Proses. Aku sangat takut jika proses yang kujalani tidaklah baik.
“Maafkan aku.. belum bisa menjadi yang diinginkan dan selalu saja membuatmu susah.. Ternyata Allah sudah menyiapkan hal lain. Aku belum mengizinkan di semester ini mi, bi.. Kelulusan tidak berpihak padaku pada semsester ini.”
Selang 3 menit.. SMS itupun terkirim kepada ummi dan abi.. Sangatt takutt.. itu yang ku rasakan. Berbagai macam pikiran dan entah apa yang merasuki Fikiranku. Saat itu aku ingiinnnnn sekali berteriak “Aaarrrrgggghhhhh….” Tak tega aku melihat wajah mereka. Tak berani aku membayangkan kekecewaan mereka yang pasti akan  terlihat dari raut wajahnya. yang seHarusnya aku mengirimkan sms yang membuat mereka bangga.. Tak terasa butiran lembut telah membasahi pipiku. wajarkah aku jika aku menangiss??
5 Menit berlalu.. aku tetap memegang hp dalam genggamanku. Berharap menunggu balasan dari ummi dan abi. Seketika nada Doraemon berbunyi menandakan ada sms masuk di hp ku. kulihat di awal layar, ternyata ummi ku. Enggan rasany untuk membukanya. dengan agak sedikit berat, ku ayunkan jemariku untuk memencet tombol “Tampilkan”. dan isinya
“Ya udah gapapa kak, yang penting udah ada usaha, dan terus di tingkatkan hafalannya..”
Belum sempat aku menutup sms itu, tiba-tiba suara doraemon mengagetkanku kembali. “Waduhh.. sms dari abi..” pikirku. dan aku membukanya lagi tanpa piker panjang..
“ga lulus? gapapa Alhamdulillah.. harus lebih banyak belajar dan tingkatkan tahfidznya..”
Begitu deras aliran yang jatuh tepat di pipiku ini.. Tak sepantasnya aku mengecewakannya. tidak. aku bahkan sempat berfikir bahwa Allah tidak adil.. BUT.. Aku tak bisa menyalahkan siapapun selain diriku sendiri.. yaa.. diriku sendiri. Sesuatu ada waktunya, segala sesuatu ada hikmahnya.. Kita sering tidak paham rahasia takdir Allah. aku selalu percaya bahwa Allah SELALU memberi pelangi di setiap badai, senyum disetiap air mata, berkah di setiap cobaan dan jawaban di setiap do’a.
Yaahh.. Aku sangat bersyukur padaMu ya Allah.. KAU telah menanugrahi kedua orangtua yang Luar biasa untuk kehidupanku. Entah itu masa lalu, sekarang dan akan datang nanty nya. Tak bisa aku membalas SEMUA jasanya. Meskipun aku bayar dengan uang sekalipun. Ketika ku Tanya pada ummi dan abi apa yang harus aku bantu? mereka selalu menjawan “Cukup Bantu Ummi dan Abi dengan menjadi anak Sholehah..”
Ada sesuatu yang tidak bisa aku tuliskan melalui kata-kata disini. Biarkan hal ini aku dan beberapa temanku yang tahu. Pena tak selamanya menjadi saksi atas kehidupanku.. karena.. terkadang.. kita juga butuh ruang di kepala kita untuk tetap menyimpan sesuatu yang berharga..
Allah.. Kau tahu apa yang terbaik untukku..
Aku tak pernah menerima apa yang kuminta.. TAPI.. Aku menerima apa yang Kubutuhkan.

-Aku yang tengah belajar selalu bersyukur atas setiap karuniaMu Robby-

Jogjakarta, Selasa, 2 Oktober 2013
21:49 Waktu setempat.

Kamis, 08 Agustus 2013

untuk beberapa saat saja..

Sepenggal Episode
            Malam baru saja beranjak dari garis edarnya, aku diam terpaku menatap bulan separuh semangka menggantung jauh diangkasa sana, ternyata aku merasakan ada sesuatu yang lain di hatiku. Tepat pukul 22:40 di hari Sabtu, 8 January 2011 ku mencoba mengingat kembali apa yang terjadi pada tanggal 27 Des 2010 dengan menorehkannya dalam secarik kertas yang ku tuliskan dalam buku “Caphan” -Catatan Kehidupan-. Hampir 4 tahun berlalu ku ukir itu semua..
Matahari siang mulai condong ke sisi barat, langit cerah tanpa selarik pun awan hitam disana.. Sudah menjadi Tradisi di Pesantren ku mengadakan Tasyakur plus bagi Raport untuk para santri,. mulai dari TK-IT sampai MA (Madrasah Aliyah),. Bagi ku pribadi,pembagian Raport kali ini sangat berbeda dengan yang sebelum-sabelumnya. Ketika tiba waktu nya untuk dibacakan nama-nama juara, semua santri merasakan hal yang sama dengan ku waktu itu yaitu dag.dig.dug.deeer.. (hehe lebayy dikit) tatkala Mudir Pesantren beserta Kepala Sekolah masing-masing Lembaga yang di amanahi nya menyebutkan satu persatu nama murid sesuai dengan peringkatnya. Tibalah saatnya giliran kelas teratas, yaitu kelas ku kelas XII di umumkan peringkatnya oleh mudir. Ketika ku mendengar ternyata aku mendapat ranking 5, Shock bangett.. serasa aliran darah yang mengalir itu begitu cepat dan pada akhirnya bermuara pada satu titik yang membuat ku merasa tak berdaya. Ingin rasanya menumpahkan butiran lembut dari mataku, yang sudah mulai menggantung di kelopak mata ini  yang ku coba untuk tidak jatuh, di tambah ketika para juara 1-3 menerima hadiah di atas panggung, ASLI! mau nangis bangett. Karena selama 5 thn sekolah di situ, aku pasti maju ke panggung itu ketika moment seperti ini (afwan bukan nya ujub). Sudah niatan setelah pengumuman ini aku langsung masuk kamar truss nangiis dan muhasabah diri “ why I get ranking 5?”-Batin ku- Dan pada saat  itu pula serentak pandangan teman-teman dan adik kelas tertuju pada ku, “mba nisa kenapa kok..”, “ nisa ko bisa.. bla..bla..”  Arghhhh.. pertanyaan dan pernyataan mereka justru membuatku nambah down. Tidak hanya mereka yang berujar, bahkan abi dan kepsek pun ikut berkomentar, “iya.. memang di kelas 12 ini terjadi perubahan yang signifikan, mungkin lagi PUBER jadi lebih banyak ngelamunnya di bandingkan belajarnya” .. iih perasaan aku pubernya gaa lebay kaya gitu deh yang aku rasain, tetap mengutamakan study koo.. –batin kuu-  “kenapa sih ka, ko nurun nilainya?” Tanya abiku. aku hanya menggeleng dan mengangkat kedua punggung disertai senyum yang agak terpaksa.
Ketika Raport itu sudah di tangan ku, aku benar-benar mengecek ulang dengan teliti.. daan ternyataa.. ada dua mata pelajaran yang belum dimasukin nilai nya, sontak aku merasa kaget dan langsung ku laporkan pada pihak sekolah, setelah di rekapitulasi ulang oleh pihak sekolah,. Alhamdulillah.. Jumlah Raport ku ternyata lebih besar dari yang  juara 2 tadii, tanpa sadar buliran itu meleleh tetes demi tetes di kantor MA. Sebenarnya bukan menjadi permasalahan ketika aku tidak mendapat Juara, tetapi nilai-nilai nya itu looh yang menjadi masalah. Ahh.. Legaa rasanya.. Alhamdulillah, merasakan ranking 5 hanya untuk beberapa jam saja. hehe.